Jembrana (JPost) – Sampah rumah tangga yang selama ini jadi momok di desa, kini disulap jadi “mata uang” di Banjar Warnasari Kelod, Desa Warnasari, Melaya. Lewat inovasi Banjar Smart Hub, warga yang rajin memilah sampah dari rumah bisa langsung pakai nilainya buat bayar pajak, listrik, air, sampai nabung emas.
Peluncuran aplikasi layanan publik digital ini diresmikan Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Jumat 29/5 di Balai Banjar Warnasari Kelod. Bupati menyebut inilah bukti nyata perubahan dimulai dari banjar, oleh masyarakat, untuk masyarakat.
Selama ini akses layanan administrasi jadi kendala warga Warnasari Kelod. Mayoritas berprofesi buruh, tukang, dan petani, harus ke kota kalau mau urus surat atau bayar tagihan. Jauh, makan biaya, makan waktu.
Kelian Banjar I Kadek Sri Rama Usmantara melihat 2 masalah ini harus diputus sekaligus seperti birokrasi ribet plus sampah menumpuk. “Permasalahan sampah di banjar kami cukup tinggi. Walaupun di pedesaan, sampah sudah menimbulkan keresahan,” ujarnya.
Jawabannya: Banjar Smart Hub. Satu aplikasi di HP yang gabungkan layanan kependudukan, transaksi keuangan, dan sistem pengelolaan sampah.
Kuncinya ada di sistem insentif & disinsentif, Warga yang bawa sampah pilahan ke banjar dapat poin. Poin bisa dipakai bayar listrik, PDAM, Samsat, tagihan lain, tabungan emas, tabungan hari tua, sampai daftar BPJS Ketenagakerjaan. Warga yang males milah sampah dari rumah kena iuran residu.
“Semuanya dirancang biar warga sadar lingkungan sekaligus dapat nilai ekonomi dari sampah. Ini bukan sekadar aplikasi, tapi solusi nyata,” tegas Usmantara.
Bupati Kembang mengapresiasi langkah ini dan ingin Banjar Smart Hub jadi contoh seluruh banjar di Jembrana. “Yang tadinya sampah jadi masalah, di sini sampah jadi berkah. Ayo kita tiru apa yang ada di Warnasari Kelod,” serunya.
Dengan model ini, Banjar Warnasari Kelod membuktikan digitalisasi layanan dan kesadaran kelola sampah bisa jalan bareng. Masalah lingkungan berkurang, dompet warga terbantu. (Yus)







