Jembrana (JPost) – Megaproyek pembangunan Pelabuhan Perikanan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, segera memasuki tahap pelaksanaan. Proses penandatanganan tender proyek tersebut telah rampung pada Jumat (7/8/2026), sementara peletakan batu pertama atau groundbreaking dijadwalkan pada 10 September 2026.
Kepala Sub Bagian Umum Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Lukman Hadi, mengatakan proyek yang menelan anggaran lebih dari Rp 1,2 triliun tersebut akan dikerjakan oleh konsorsium CRBC Joint Operation (JO) Nindya Karya.
Menurut Lukman, pembangunan pelabuhan bertaraf internasional itu diharapkan menjadi salah satu proyek strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Pengambengan dan Kabupaten Jembrana secara lebih luas.
“Nanti akan dihadiri oleh Menteri langsung saat peletakan batu pertama (groundbreaking), dan pada saat peresmian akan dihadiri Presiden,” kata Lukman saat dikonfirmasi Jembrana Post.
Ia menjelaskan, kawasan pelabuhan yang akan dikembangkan memiliki luas sekitar 49 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 13 hektare merupakan area eksisting, sedangkan sekitar 36 hektare lainnya merupakan kawasan hasil reklamasi.
Persiapan pelaksanaan pembangunan, lanjut Lukman, telah mulai dilakukan pada bulan ini. Sejumlah tahapan teknis juga dipersiapkan untuk memastikan aktivitas masyarakat, khususnya nelayan tradisional, tetap dapat berlangsung selama proyek berjalan.
“Untuk nelayan tradisional juga sudah dilakukan simulasi supaya nelayan tetap bisa melaut dan pelaksanaan pembangunan bisa terus berjalan,” ujarnya.
Dikutip dari Siaran Pers (29/7), Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Lotharia Latif, menyebut pembangunan dan pengembangan PPN Pengambengan merupakan bagian dari upaya mentransformasikan tata kelola perikanan tangkap agar semakin baik.
Menurut Latif, pengembangan pelabuhan tersebut akan memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas produksi ikan, daya tampung kapal, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan penerimaan negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Ini adalah investasi strategis untuk memperkuat fondasi industri perikanan nasional sekaligus meningkatkan daya saing ekspor produk perikanan Indonesia, utamanya dalam implementasi penangkapan ikan terukur,” tutur Latif.
Latif menegaskan, transformasi sektor perikanan melalui pembangunan pelabuhan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pelaku usaha berskala besar. Pemerintah, kata dia, memastikan pelaku UMKM, koperasi, dan masyarakat lokal turut mendapatkan ruang untuk tumbuh serta terlibat dalam pengelolaan dan aktivitas ekonomi di sekitar pelabuhan.
“Transformasi ini bukan hanya milik pelaku usaha besar. Kami pastikan UMKM, koperasi, dan masyarakat lokal tumbuh bersama dan terlibat aktif dalam pengelolaan pelabuhan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut PPN Pengambengan akan dikembangkan menjadi sentra perikanan pada Zona 4 Penangkapan Ikan Terukur.
Trenggono menegaskan, setiap zona penangkapan ikan terukur akan dibangun minimal satu pelabuhan perikanan yang memiliki fasilitas lengkap. Pelabuhan tersebut tidak hanya menjadi tempat kapal bersandar, tetapi terintegrasi dengan seluruh rantai kegiatan perikanan.
Mulai dari proses penangkapan ikan, loading unloading, hingga fasilitas industri pengolahan yang berada di kawasan belakang pelabuhan.
Dengan konsep tersebut, PPN Pengambengan nantinya diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan, tetapi menjadi pusat aktivitas perikanan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia berharap kehadiran pelabuhan bertaraf internasional tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar, khususnya di Kabupaten Jembrana, serta Bali secara umum.
Pembangunan Pelabuhan Perikanan Pengambengan diharapkan semakin memperkuat posisi Jembrana sebagai salah satu kawasan perikanan penting di Bali sekaligus membuka peluang investasi, lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat lokal.







