Jembrana (JPost)-Lanskap Desa Pengambengan di Jembrana, Bali, mendadak berubah menjadi arena adu ketangkasan. Selama dua hari, 2-3 Mei 2026, Lapangan Pusat Latihan Jembrana Horseback Archery (JHBA) di Banjar Munduk diramaikan oleh ratusan pemanah dalam ajang Kejuaraan Daerah Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Bali.
Mengusung tajuk Bidik Prestasi Junjung Tinggi Budaya, kompetisi ini menjadi saringan awal untuk mencari talenta-talenta terbaik yang akan dikirim ke panggung nasional di Jawa Timur.Rizki Bahtiar, sang Ketua Penyelenggara, menegaskan bahwa kejuaraan ini lebih dari sekadar urusan memanah sasaran.
Ada dimensi spiritual dan pembentukan karakter yang ingin ditekankan melalui olahraga ini. Rizki mengaitkan ketangkasan memanah dengan nilai-nilai religius dan pengendalian diri.
“Sunnah Rasulullah SAW sangat menganjurkan olahraga ini karena melatih konsentrasi, ketepatan, pengendalian emosi, dan kekuatan. Intinya olahraga panahan bukan hanya olahraga fisik tetapi juga aktivitas yang sarat makna spiritual dan mental. Kombinasi budaya lokal dan anjuran agama menjadikan olahraga ini sangat istimewa,” ujar Rizki.
Ajang ini diikuti oleh 130 peserta yang melintasi berbagai kelompok usia, mulai dari kategori anak-anak, remaja, dewasa, hingga umum. Menariknya, kompetisi ini juga diikuti oleh atlet kawakan yang sempat menduduki peringkat tiga dunia dalam ajang internasional di Turki pada 2025 lalu.
Rizki berharap kehadiran para senior ini bisa menjadi katalisator profesionalisme bagi 9 kabupaten/kota yang berpartisipasi.”Dengan demikian selain pertandingan juga saling bertukar pengalaman dan juga tentunya mengembangkan lebih ke profesional para atlit pemanah,” tuturnya.
Ketua Fespati Bali, Selamet Rianto, menambahkan bahwa Kejurda yang digelar dua tahun sekali ini merupakan jembatan bagi para atlet menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Malang, Jawa Timur, pada Agustus 2026 mendatang. Dengan dukungan penuh dari Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Kormi), panitia menyiapkan berbagai apresiasi mulai dari uang pembinaan hingga medali sebagai simbol prestasi.
“Kormi sangat mendukung penuh dengan event kegiatan Kejurda Panahan di Desa Pengambengan ini. Dan inilah Kolaborasi dengan baik antara Fespati dan pemerintah terutama Kormi,” tutur Selamet Rianto yang turut serta dalam ajang bergengsi ini.
Tak hanya terpaku pada internal organisasi, panitia juga membuka ruang inklusivitas melalui kelas open 30 meter dan 50 meter bagi organisasi di luar Fespati. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa penjaringan atlet dilakukan secara luas dan transparan di setiap sudut Bali. (Yus)







